Selasa, 13 September 2011

..surat untuk sahabat yg tak pernah ku kenal..

.suatu siang dengan sinar mentari yang membakar, saya penasaran dengan wall post yangterpajang di jejaring sosial yang sedang di gandrungi oleh sluruh umat yang ada di muka bumi kecuali daerah pedalaman yang tak mampu terjangkau signal internet, saat saya membuka wall post tersebut ternyata berisikan link yg di dalamnya memuat cerita tentang seorang pejuang tanpa pamrih yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajar di sebuah pedalaman di negri ini, di mana signal GSM pun amat sulit untuk di dapat, dengan ambisi dan niat yang begitu keras kau ingin menghapus kebodohan, kau rela berkubang dengan kesederhanaan, hanya genset yang hidup dari jam 19:00-21:00 sebagai penerangan satu-satunya di kala malam, belum lagi tempat yang begitu sulit untuk di jangkau,,

"Di era seperti ini kau tak lelah berjuang kawan,demi memajukan bangsa kau buang jauh-jauh kemapanan materi, idealis yang teka pernah tampak lagi di segerombolan anak muda metropolitan,pernahkah kau memikirkan apa yang telah kau laksanakan itu kawan?perdulikah bangsa akan apa yang kau lakukan?dapatkah kau penghargaan dari negara atas apa yang kau kerjakan? Namun ku yakin kawan,kau tak pernah sedikitpun mengharap keperdulian dan penghargaan dari negara yang katanya sudah merdeka namun terbantah oleh beragam fakta,mereka terlalu sibuk berdiskusi,sibuk merancang aturan-aturan,sibuk mangajak bekerja sama untuk penghancuran,hingga rakyat di pedalaman terlupakan,bukankah mereka warga negara kita juga kawan??


 Untuk mu shabat yang belum pernah ku kenal,ku akui saat ini begitu banyak pejuang palsu,mengaku sperti dirimu namun perbincangan soal upah itu menjadi bahasan terlebih dahulu,kau shabatku,aku ingin bertanya,salahkah mereka yang hidup jauh dari layak meminta keadilan? Dan salahkah jika organisasi-organisasi sparatis di daerah pedalam itu bermunculan untuk menuntut kemerdekaan? Entah kutukan atau sengaja mengutuk diri sendiri bangsa yang katanya kaya namun mengapa bangsa peminta-minta seperti ini,dan ketika organisasi ini bergerak maka moncong senjata adalah jawaban untuk mereka,dengan dalih sesuai prosedur aparat berhak memberondong mereka dengan peluru dan kemudian turunlah ayat-ayat pasal tentang kesalahan mereka,dan jika kita balik kawan ku,apa mereka berfikir dan bertanya,mengapa mereka bertindak demikian??? 

Sahabatku,jika saja ada 100 orang seperti mu di tanah kita tercinta ini mungkin bangsa kita tak akan seperti sekarang ini, karna senjata paling mematikan di dunia (uang) bisa merubah segalanya,dari sifat hingga pola pikir orang, kau sahabatku, hari ini kau menjadi inspirasi bagi ku, semoga damai selalu menyertai langkah, niat, dan hidupmu"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar