Saat malam itu, pemberontakan kecil terjadi di balik kesendirian dalam kamar, halilintar terus memaki dan menampar lewat kilatan petirnya, di wajah balkon, ada air yang membanjir di seluruh gang, air itu adalah air mata yang tak tertahankan, hingga jatuh tertumpah dari mangkuk liat yang telah penuh tertitis, olehnya, olehmu, oleh mereka, oleh dunia, dan oleh semesta.
Namun mengapa hujan juga enggan untuk reda? Sedangkan air yang di kencinginya telah membendung, hampir seluruh isi kota,dan dia sedang menari panas di dalam dunia gemerlapnya, aku juga tau hal itu, kalau di sana ada tubuh lain yang berada di dalam dekapan tubuhnya, dan dia memeluknya dengan erak sembari berdansa, aku tak pernah menghiraukan apapun yang terjadi lantas,,,
Apakah tubuhku ini telah dianggap kotoran sampah yang telah berbau busuk olehnya?
Saat itu aku merasa menemukan serpihan tubuhku di tubuhnya, entah apa yang merasuki hatiku tapi rasanya aku seperti melihat ketakutan dari matanya yang menusukku tajam, aku seakan menggapai dirinya dalam batin jeritku, seakan aku tau apa yang ada di dalam pikirannya, hari itu, malam itu, aku seperti mengenalnya sejak dahulu, lalu dia berlalu berakhir dengan senyum sinis kepadaku jika aku teringat malam itu yang begitu menakutkan..

Wah bro Oddy.. Postingan kali ini tajam, keras dan jujur... Semangaaattt!!
BalasHapusAh bro maya bisa saja,jadi tersipu saya,,,,Ah bro maya bisa saja,jadi tersipu saya,,,,
BalasHapus