Sabtu, 24 September 2011
Pagi ini ku saksikan air langit menghantam bumi,jauh dari ketinggian mengejar grafitasi,menampar sunyi dengan bisikan gema yang tak pernah terduga,hingga terjagalah aku dari lelap tidur senja,oh semesta,misterimu tak terhingga,di manakah kau simpan hamparan surga,ku coba raba setiap hembusan sejuknya surya,di sana ku temukan setumpuk surga yang tak mampu tuk ku lukis,indah pada pada titik sunyi hati berselimut magis,inikah yang dinamankan bahagia,saat ku riang ketika nafasku terbakar bersama kala,hunuslah aku dengan kalam untuk ku menghantam malam,hingga jiwa-jiwa ini tak mampu lagi terjemahkan butiran-butiran atom dalam hitungan kuartal,pagi ini ku bahagia karnah telah membakar birokrasi dalam sejejal kisah yang tak pernah tersirat
Kamis, 15 September 2011
-setelah bumi kau dahagakan dengan cintamu yang asing,ku saksikan langit merendah mengibarkan kerudung mu yang kaku serupa arca,di manakah cahaya yang terbit untuk memadamkan tawa?
Yang dulu pernah kau kirim lewat ocehan-ocehan burung camar di langit,di atas muara,di ujung sungai dengan air mata yang mengalir,dan kini tak lagi dapat ku baca milyaran pesan dari bentangan gunung angkuhmu yang semakin liar,inikah sudut tangis mu?
Di mana senyum yang dulu pernah terlukis dan sempat ku puja,lukisan itu kini pudar tertutup debu keangkuhanmu.
Mungkin akulah laki-laki yang menderita itu,yang begitu yakin untuk memahat hatimu,menggenggamnya lalu ku coba untuk tak sadarkan diri,aku merasa,aku telah lama tiada,aku telah lama binasa,aku pernah menembus tumpukan bukit perih,aku pernah di jatuhi segudang kegilaan yang menindih,karna aku menyukai kolosal kesombonganmu,dan kini aku menanti renik kesalahanku,untuk kau hujat,untuk kau maki,untuk kau ludahi di hadapan kawananmu yang kini engkau banggakan,HUJATLAH AKU HAI KAU BADAI PEMBUNUH RASA, karna aku telah lelah berada dalam lingkaran SKENARIO DRAMA-DRAMA yang hanya akan menjadi cerita,terlalu panjang birokrasi rasa yang menuntun ku hingga ke depan pintu untuk masuk ke dalam RUANG KE SIA-SIAAN.
Biarkan sudah SUMUR HATI INI MENGERING,,,biarkanlah sumur hati ini gersang,aku akan tetap terdiam menunggu hingga kelak ada air untuk membasahi dan mengisi sumur ini,walau dengan air mata,,,
"untuk sumur hatiku,sabarlah kau untuk menunggu"
Yang dulu pernah kau kirim lewat ocehan-ocehan burung camar di langit,di atas muara,di ujung sungai dengan air mata yang mengalir,dan kini tak lagi dapat ku baca milyaran pesan dari bentangan gunung angkuhmu yang semakin liar,inikah sudut tangis mu?
Di mana senyum yang dulu pernah terlukis dan sempat ku puja,lukisan itu kini pudar tertutup debu keangkuhanmu.
Mungkin akulah laki-laki yang menderita itu,yang begitu yakin untuk memahat hatimu,menggenggamnya lalu ku coba untuk tak sadarkan diri,aku merasa,aku telah lama tiada,aku telah lama binasa,aku pernah menembus tumpukan bukit perih,aku pernah di jatuhi segudang kegilaan yang menindih,karna aku menyukai kolosal kesombonganmu,dan kini aku menanti renik kesalahanku,untuk kau hujat,untuk kau maki,untuk kau ludahi di hadapan kawananmu yang kini engkau banggakan,HUJATLAH AKU HAI KAU BADAI PEMBUNUH RASA, karna aku telah lelah berada dalam lingkaran SKENARIO DRAMA-DRAMA yang hanya akan menjadi cerita,terlalu panjang birokrasi rasa yang menuntun ku hingga ke depan pintu untuk masuk ke dalam RUANG KE SIA-SIAAN.
Biarkan sudah SUMUR HATI INI MENGERING,,,biarkanlah sumur hati ini gersang,aku akan tetap terdiam menunggu hingga kelak ada air untuk membasahi dan mengisi sumur ini,walau dengan air mata,,,
"untuk sumur hatiku,sabarlah kau untuk menunggu"
Selasa, 13 September 2011
..surat untuk sahabat yg tak pernah ku kenal..
.suatu siang dengan sinar mentari yang membakar, saya penasaran dengan wall post yangterpajang di jejaring sosial yang sedang di gandrungi oleh sluruh umat yang ada di muka bumi kecuali daerah pedalaman yang tak mampu terjangkau signal internet, saat saya membuka wall post tersebut ternyata berisikan link yg di dalamnya memuat cerita tentang seorang pejuang tanpa pamrih yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajar di sebuah pedalaman di negri ini, di mana signal GSM pun amat sulit untuk di dapat, dengan ambisi dan niat yang begitu keras kau ingin menghapus kebodohan, kau rela berkubang dengan kesederhanaan, hanya genset yang hidup dari jam 19:00-21:00 sebagai penerangan satu-satunya di kala malam, belum lagi tempat yang begitu sulit untuk di jangkau,,
Untuk mu shabat yang belum pernah ku kenal,ku akui saat ini begitu banyak pejuang palsu,mengaku sperti dirimu namun perbincangan soal upah itu menjadi bahasan terlebih dahulu,kau shabatku,aku ingin bertanya,salahkah mereka yang hidup jauh dari layak meminta keadilan? Dan salahkah jika organisasi-organisasi sparatis di daerah pedalam itu bermunculan untuk menuntut kemerdekaan? Entah kutukan atau sengaja mengutuk diri sendiri bangsa yang katanya kaya namun mengapa bangsa peminta-minta seperti ini,dan ketika organisasi ini bergerak maka moncong senjata adalah jawaban untuk mereka,dengan dalih sesuai prosedur aparat berhak memberondong mereka dengan peluru dan kemudian turunlah ayat-ayat pasal tentang kesalahan mereka,dan jika kita balik kawan ku,apa mereka berfikir dan bertanya,mengapa mereka bertindak demikian???
Sahabatku,jika saja ada 100 orang seperti mu di tanah kita tercinta ini mungkin bangsa kita tak akan seperti sekarang ini, karna senjata paling mematikan di dunia (uang) bisa merubah segalanya,dari sifat hingga pola pikir orang, kau sahabatku, hari ini kau menjadi inspirasi bagi ku, semoga damai selalu menyertai langkah, niat, dan hidupmu"
Senin, 12 September 2011
.."penyaksian mata dari dalam ruang kotak dengan waktu yang enggan berputar",,,
Saat malam itu, pemberontakan kecil terjadi di balik kesendirian dalam kamar, halilintar terus memaki dan menampar lewat kilatan petirnya, di wajah balkon, ada air yang membanjir di seluruh gang, air itu adalah air mata yang tak tertahankan, hingga jatuh tertumpah dari mangkuk liat yang telah penuh tertitis, olehnya, olehmu, oleh mereka, oleh dunia, dan oleh semesta.
Namun mengapa hujan juga enggan untuk reda? Sedangkan air yang di kencinginya telah membendung, hampir seluruh isi kota,dan dia sedang menari panas di dalam dunia gemerlapnya, aku juga tau hal itu, kalau di sana ada tubuh lain yang berada di dalam dekapan tubuhnya, dan dia memeluknya dengan erak sembari berdansa, aku tak pernah menghiraukan apapun yang terjadi lantas,,,
Apakah tubuhku ini telah dianggap kotoran sampah yang telah berbau busuk olehnya?
Saat itu aku merasa menemukan serpihan tubuhku di tubuhnya, entah apa yang merasuki hatiku tapi rasanya aku seperti melihat ketakutan dari matanya yang menusukku tajam, aku seakan menggapai dirinya dalam batin jeritku, seakan aku tau apa yang ada di dalam pikirannya, hari itu, malam itu, aku seperti mengenalnya sejak dahulu, lalu dia berlalu berakhir dengan senyum sinis kepadaku jika aku teringat malam itu yang begitu menakutkan..
Minggu, 11 September 2011
..nazar..
Terlalu lelah ku berkeluh kesah,
di dalam bualan ujung pena yg berkisah,
di antara ribuan kawan-kawan yang menghilang,
suara pengepal tangan terbayar kertas birokrasi yang usang,
kembali ku terhujam di dalam kala,di mana saat kita menentang mentari bersama,
menantang para pasukan langit,
yang di tandai gerimis jelaga dari corong-corong tinggi milik pabrik,
di atas kalam kita pernah bernazar,
melawan hingga tetes darah penghabisan,
tanpa berharap surga neraka yang ter umbar,
kita tancapkan panji sebagai tera tanda perlawanan,
walau ribuan luka puputan menyayat, walau perang ini kan kita lakukan hingga akhir hayat, walau kita tau perang ini tak berujung,
haruskah kita terdiam di pojokan lokalisasi logika dan termenung,,,
Suara-suara penuntut keadilan telah hilang di ujung desa,suara-suara minor anak bangsa di bungkam oleh masa,
suara-suara pecinta bangsa di tutup rapat serupa sejarah,
dengan dalih stabilitas dan keamanan negara,
hingga pada akhirnya kita menyaksikan rubuhnya gedung idealis,
terhantam palu godam sang kapitalis,
haruskah kita menjadi kawanan konsumen dengan melalui ritwalisasi sakramen,
dan terjebaklah kita di dalam lingkaran setan keingin para despot yg homogen,
ketika malam-malam gulita terhunus,serupa kabar akhir jaman yang berhembus,
serupa bahasa para musang yang berkompromi,serupa lintah yang menawarkan negosiasi,
serupa janji-janji serupa asuransi,serupa nazar serupa maklumat demoralisasi,
tanpa epistemologi kita bertanya tentang hak yang tereduksi,
kami siap menjadi martir bahkan praktisi untuk menantang mentari,,,
Sabtu, 10 September 2011
..kalian berdua..
Di pertengahan malam kala itu 05.Sept.2011 di daerah Bilangan Denpasar Bali, ku di perkenalkan oleh orang yang sehari kemarin menjadi sosok special untuk hidup ku namun tidak untuk hari ini,dari dia ku di perkenalkan pada logika dua logika, sepasang logika yang sejalan dalam berfikir, dalam melihat problematika dan kalian selalu melihat sudut tragedi tak hanya di satu sisi.
Entah apa yang menggerakkan aku hingga bertemu dengan orang-orang seperti kalian di muka bumi ini, sampai pada akhirnya aku bertanya di dalam diri, siapakah aku? Akankah aku hidup amorfati?
Namun itulah kalian,yang menginspirasiku hingga saat ini,mungkin kalian kelak suatu saat akan menjadi bagian dari perubahan, perubahan cara berfikir, perubahan melihat suatu masalah, perubahan persepsi akan suatu tragedi, membongkar stigma yang sudah tertanam jauh pada sel DNA setiap warga negara akan jengkal sejarah yang di tutup rapat.
Itulah kalian di mata ku yang begitu solid melakukan manufer pertanyaan di dalam sebuah kejadian, dan akhirnya kalian lah yang menampar malam yang sunyi itu, kalian ber dua lah yang menghujat malam deretan fakta bahwa kita belum merdeka,kalian adalah pasangan muda yang peka dari kasus wiji tukul hingga kasus penculikan tukijo kalian merespon setiap kejadian itu agar seluruh warga tau keadilan bodoh macam apa yang ada di negara ini dengan media jejaring sosial kalian tebar sebuah realita tentang kejadian nyata,aku sempat berfikir untuk apa kita "REPOT" hal yang demikian,yang sudah jelas-jelas akan mendapat kecaman dari negara dan korporasi, namun setelah sepintas pikiran konyol itu lewat aku hanya mampu tersenyum,ingin tertawa dan mengatai bahwa aku bodoh "repot??" aku rasa sudah tak lagi eksis di perbendaharaan kamus kalian berdua.
Namun itulah kalian,yang menginspirasiku hingga saat ini,mungkin kalian kelak suatu saat akan menjadi bagian dari perubahan, perubahan cara berfikir, perubahan melihat suatu masalah, perubahan persepsi akan suatu tragedi, membongkar stigma yang sudah tertanam jauh pada sel DNA setiap warga negara akan jengkal sejarah yang di tutup rapat.
Itulah kalian di mata ku yang begitu solid melakukan manufer pertanyaan di dalam sebuah kejadian, dan akhirnya kalian lah yang menampar malam yang sunyi itu, kalian ber dua lah yang menghujat malam deretan fakta bahwa kita belum merdeka,kalian adalah pasangan muda yang peka dari kasus wiji tukul hingga kasus penculikan tukijo kalian merespon setiap kejadian itu agar seluruh warga tau keadilan bodoh macam apa yang ada di negara ini dengan media jejaring sosial kalian tebar sebuah realita tentang kejadian nyata,aku sempat berfikir untuk apa kita "REPOT" hal yang demikian,yang sudah jelas-jelas akan mendapat kecaman dari negara dan korporasi, namun setelah sepintas pikiran konyol itu lewat aku hanya mampu tersenyum,ingin tertawa dan mengatai bahwa aku bodoh "repot??" aku rasa sudah tak lagi eksis di perbendaharaan kamus kalian berdua.
Kalian bergerak mungkin sudah dari dulu, sejak kita belum saling kenal, sejak kita belum saling berteman, tujuh atau sepuluh tahun yang lalu, tapi nampaknya kalian tak lagi perduli dan tak lagi menganggap penting lamanya waktu, jika di bandingkan dengan semua hal dalam rentang waktu tersebut di negara yang sakit ini.
Kalian tak pernah berhenti untuk menginspirasi kaum-kaum yang termarjinalkan untuk membuka mata akan informasi, kalian menyerukan lakukan perlawanan dan tolak hegemoni secara terorganisir dari kekuasaan modal dan program-program neoliberalisme ataupun kapitalisme, dan dengan cara kalian untuk membuka mata para kaum tertindas agar tersadar bahwa yang akan di rugikan dari setiap proses-proses hegemonian tersebut adalah rakyat.
Kalian berdua pasangan hebat di mataku,setiap hari selalu menabur benih-benih pengetahuan dan input-input yang aku rasa tak mudah aku dapat, terima kasih kawan-kawan ku,maaf aku hanya mampu persembahkan rangkayan kata-kata yang begitu acak ini, namun inilah bentuk kagum-ku pada kalian berdua, rangkayan kata-kata ini tak seberapa jika di bandingkan dengan setiap link yang setiap waktu kalian posting di wall ku.
Kalian berdua pasangan hebat di mataku,setiap hari selalu menabur benih-benih pengetahuan dan input-input yang aku rasa tak mudah aku dapat, terima kasih kawan-kawan ku,maaf aku hanya mampu persembahkan rangkayan kata-kata yang begitu acak ini, namun inilah bentuk kagum-ku pada kalian berdua, rangkayan kata-kata ini tak seberapa jika di bandingkan dengan setiap link yang setiap waktu kalian posting di wall ku.
"SEMOGA KALIAN TAK JENUH BERJUANG DI NEGRI YANG SAKIT INI"
Jumat, 09 September 2011
..lawan pembodohan..
.aku bisa saja di bungkam,,,
.aku bisa saja untuk di buang,,,
.aku bisa saja di penjarakan,,,
.namun perlawanan ini tak akan pernah mampu untuk di tahan,,,
.malam-malam yang menghunus setiap nafas tersamar,,,
ijinkan aku menantang pasukan langit yang sibuk berbisikan lahirkan metode penghancuran,,,
.kutantang kutukan,ku kutuk tantangan,,,
maka terhujamlah ke dalam kerak neraka yang bertabur berlian berlapis statistik,,,
.ku berihtiar menolak semua hegemoni pembodohan yang terumbar!!!!
Mereka melarang perjudian bagi umum,,,
menangkap para penjudi,,,
namun mereka yg memainkan judi itu sendiri,,,
Selamat BERJUANG melawan PEMBODOHAN,,,
Langganan:
Postingan (Atom)

