Minggu, 11 September 2011

..nazar..

Terlalu lelah ku berkeluh kesah, 
di dalam bualan ujung pena yg berkisah,
di antara ribuan kawan-kawan yang menghilang, 
suara pengepal tangan terbayar kertas birokrasi yang usang,
kembali ku terhujam di dalam kala,di mana saat kita menentang mentari bersama,
menantang para pasukan langit, 
yang di tandai gerimis jelaga dari corong-corong tinggi milik pabrik,
di atas kalam kita pernah bernazar,
melawan hingga tetes darah penghabisan, 
tanpa berharap surga neraka yang ter umbar, 
kita tancapkan panji sebagai tera tanda perlawanan, 
walau ribuan luka puputan menyayat, walau perang ini kan kita lakukan hingga akhir hayat, walau kita tau perang ini tak berujung, 
haruskah kita terdiam di pojokan  lokalisasi logika dan termenung,,,
Suara-suara penuntut keadilan telah hilang di ujung desa,
suara-suara minor anak bangsa di bungkam oleh masa,
suara-suara pecinta bangsa di tutup rapat serupa sejarah,
dengan dalih stabilitas dan keamanan negara,
hingga pada akhirnya kita menyaksikan rubuhnya gedung idealis,
terhantam palu godam sang kapitalis,
haruskah kita menjadi kawanan konsumen dengan melalui ritwalisasi sakramen,
dan terjebaklah kita di dalam lingkaran setan keingin para despot yg homogen,
ketika malam-malam gulita terhunus,serupa kabar akhir jaman yang berhembus,
serupa bahasa para musang yang berkompromi,serupa lintah yang menawarkan negosiasi,
serupa janji-janji serupa asuransi,serupa nazar serupa maklumat demoralisasi,
tanpa epistemologi kita bertanya tentang hak yang tereduksi,
kami siap menjadi martir bahkan praktisi untuk menantang mentari,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar