Kamis, 15 September 2011

-setelah bumi kau dahagakan dengan cintamu yang asing,ku saksikan langit merendah mengibarkan kerudung mu yang kaku serupa arca,di manakah cahaya yang terbit untuk memadamkan tawa?
Yang dulu pernah kau kirim lewat ocehan-ocehan burung camar di langit,di atas muara,di ujung sungai dengan air mata yang mengalir,dan kini tak lagi dapat ku baca milyaran pesan dari bentangan gunung angkuhmu yang semakin liar,inikah sudut tangis mu?
Di mana senyum yang dulu pernah terlukis dan sempat ku puja,lukisan itu kini pudar tertutup debu keangkuhanmu.


Mungkin akulah laki-laki yang menderita itu,yang begitu yakin untuk memahat hatimu,menggenggamnya lalu ku coba untuk tak sadarkan diri,aku merasa,aku telah lama tiada,aku telah lama binasa,aku pernah menembus tumpukan bukit perih,aku pernah di jatuhi segudang kegilaan yang menindih,karna aku menyukai kolosal kesombonganmu,dan kini aku menanti renik kesalahanku,untuk kau hujat,untuk kau maki,untuk kau ludahi di hadapan kawananmu yang kini engkau banggakan,HUJATLAH AKU HAI KAU BADAI PEMBUNUH RASA, karna aku telah lelah berada dalam lingkaran SKENARIO DRAMA-DRAMA yang hanya akan menjadi cerita,terlalu panjang birokrasi rasa yang menuntun ku hingga ke depan pintu untuk masuk ke dalam RUANG KE SIA-SIAAN.


Biarkan sudah SUMUR HATI INI MENGERING,,,biarkanlah sumur hati ini gersang,aku akan tetap terdiam menunggu hingga kelak ada air untuk membasahi dan mengisi sumur ini,walau dengan air mata,,,
"untuk sumur hatiku,sabarlah kau untuk menunggu"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar